Jumat, 30 November 2012

Maiza


Seseorang mengetuk pintu ketika Anne selesai mengemas makanan yang akan dibawanya ke Seberang Palinggam. Anne melirik jam dinding di dapur. Pukul satu siang. Dalam pikirannya, cepat sekali Vivian datang menjemput, meskipun Anne sadar kalau Vivian sangat kebut-kebutan membawa kendaraan. 

Diingat-ingatnya lagi pertemuan mereka. Pukul dua. Lalu, siapakah yang di luar?

"Vivi, Ma?" Anne menanyakan siapa yang berada di pintu kepada mamanya.

"Bukan Vivian, Nak. Temuilah segera," jawab mamanya.

Anne merasa tidak ada membuat janji di hari sabtu ini. Sebab, dia hanya ingin menikmati hari sabtu ini dengan Vivian. Namun, senyum di wajahnya tetap terlihat meskipun di hatinya sudah mendadak ciut ketika ia melihat seorang perempuan di depannya. Maiza. Perempuan ini telah ditunggu Anne kemarin sore, tetapi tiada kabar dan akhirnya ia melupakan apa yang akan dibahas dengan Maiza. 

"Masuklah," ajak Anne.

Maiza agak sedikit takut. Rasanya, ia tidak ingin menemui Anne saat ini, tetapi perasaannya justru menjadi kuat dan akhirnya ia memilih datang menemui Anne.

"Saya minta maaf harus mengganggu waktumu hari ini, Anne," Maiza berusaha membuka percakapan tentang kesalahannya yang tidak menepati janji, saat kemarin sore.

Anne abai. Ia justru tetap tersenyum dan memilih menceritakan apa yang akan dikerjakannya.

"Minggu kemarin, saya baru berkunjung ke negeri Seberang Palinggam, Maiza. Rupanya negeri itu cantik," jawab Anne, "Berada di salah satu muara di Kota Padang, dan itu pun tersudut. Terjepit di sudut Kampung China."

"Kamu tahu lagu Dayung Palinggam, Maiza? Munculnya dari negeri ini. Mungkin, dayung palinggam itulah kiranya yang menjadi muasal Festival Perahu Naga yang sedang digiatkan pemerintah Sumatera Barat di kota ini. Setiap tahun kita menyaksikannya di dekat GOR Agus Salim. Itu, bermula dari kebiasaan masyarakat padang yang suka mendayung, bersampan, di muara-muara yang terbentang di Kota Padang."

Seperti inilah Anne meneruka kotanya. Kota Persinggahan, hingga ia mencoba mencari alasan mengapa sebuah iven diadakan di kotanya. Satu jawaban baginya, hanya untuk memaksa orang-orang singgah ke kotanya. Sejenak, meskipun hanya menikmati sebuah kegiatan di sebuah muara yang mempertemukan air sungai dengan air laut di salah satu sudut Kota Padang. Di sanalah, Festival Perahu Naga setiap tahun rutin digelar oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Di Banjir Kanal GOR Agus Salim, tepatnya. Tentunya, Anne tidak akan melewatkan festival yang disajikan di kotanya ini. 

"Kita sebenarnya sudah mempopulerkan kembali dayung palinggam, Maiza. Yang kini hanya berada dalam lagu itu, dirupakan menjadi kompetisi dayung antarnegara di kota kita. Hingga, kota mati ini bisa dinikmati oleh siapa saja."

Anne terus menyelipkan ceritanya sembari melakukan persiapan untuk bertemu Vivian. Maiza pun terpaksa mendengarkan dan terus mencari celah untuk berbicara dengan mengikuti Anne di belakang. Ia tidak berhenti berharap. Ia berusaha terus untuk menarik perhatian Anne.

"Anne, tentang kepala sekolah," Maiza membuka percakapan.

"Suatu saat kamu harus menyempatkan diri untuk mendayung sebuah sampan, Maiza. Vivian punya pengalaman yang kukagumi tentang ini."

Anne pun menceritakan kisah masa kecil Vivian kepada Maiza.

"Aku pun jadi teringat ketika bulan Oktober lalu bisa mencapai Kepulauan Mentawai, Maiza."

Dan sebuah desa di Kepulauan Mentawai pun terbayang oleh Anne. Selama seminggu ia sempat singgah dan menikmati berbaur dengan orang-orang di sana. Di sebelah utara Pulau Mentawai, tepatnya di Kecamatan Siberut Selatan, Anne pernah melabuhkan rasa penasarannya. Melihat bagaimana cantiknya Mentawai. Tapi, Anne tak pernah menyadari seharusnya ia bersampan di sana.

Sayang, kala itu, Anne hanya menjadi penumpang. Sampan dihidupkan dengan sebuah mesin karena jarak tempuh antardesa membutuhkan waktu yang lama. Enam jam. Ketika ia harus berangkat dari hilir menuju hulu. Sebuah desa yang bernama Magossi. Dan Anne, cukup menikmati perjalanan tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah terpikirkan untuk mencoba mendayung sampan tersebut--sendiri. Setidaknya antara satu tepian dengan tepian lagi, serupa dengan apa yang dilakukan Vivian di masa kecil.

Tidak, ia tidak melakukannya. Jadilah, ketika ia bertemu lagi dengan sebuah sudut di Kota Padang yang memberikan kesempatan bersampan di Desa Seberang Palinggam, Anne berkeinginan keras untuk menaikinya. 

"Tidak pernah terpikirkan olehku Maiza, untuk mencoba menaiki sampan di Mentawai. Padahal, sampan menjadi satu-satunya transportasi antardesa. Dan tentulah lebih cantik sungai yang berbelok di Mentawai itu. Di kiri kanan masih terbentang hutan kecil. Arus sungai pun mengalirkan air dengan debit yang indah. Tidak seperti muara di Seberang Palinggam yang airnya mengalir dengan tenang."

"Cantik Maiza, muara dengan air berwarna coklat. Sepanjang perjalanan pun kita akan menikmati suara monyet, suara burung, dan suara babi hutan. Mereka benar-benar bernyanyi di rumahnya. Indah, dan aku justru mengabaikan itu di sana."

Anne Fleur pun duduk di pinggir kasurnya, Maiza masih mengikuti dari belakang. Maiza menarik kursi dekat meja belajar Anne dan ia menghadapkan tubuh ke tuan rumah.

"Tapi, Seberang Palinggam juga tidak kalah cantik saat aku diajak Vivian suatu malam ke sana. Bagaimana pun, aku mengakui bahwa lampu-lampu yang berupa-rupa itu memberikan cahaya yang indah di kala malam. Kita seperti bermandikan cahaya di bawahnya."

"Hari ini, aku telah menyiapkan waktu untuk ke sana, Maiza. Tadi pun juga kusiapkan penganan surabi pandan kuah. Untuk penganan sore. Engkau boleh mencicipinya. Ada di dapur. Barangkali, Mama sekarang sedang di sana. Pergilah," tawar Anne lemah lembut.

"Anne, bagaimana dengan kepala sekolah?"

Lagi-lagi, diabaikan Anne."Aku berdandan sebentar. Satu jam lagi, Vivian akan datang. Engkau temuilah Mama," paksa Anne.

Hingga Maiza pun memilih untuk diam. Dia tahu persis tabiat Anne. Jangan membahas sesuatu ketika ia tidak ingin membahasnya. Tetapi, Maiza benar-benar ingin membahasnya saat ini. Dalam kebingungan, akhirnya ia hanya menikmati Anne yang sedang merias diri di depan cermin. Ia melihat Anne menyisir rambutnya dengan perlahan sekali hingga ketika mencapai ujung, rambut hitam itu agak bersinar ketika cahaya matahari masuk di tengah-tengah mereka.

Sapuan bedak ke wajah Anne pun dinikmati Maiza tanpa berkedip. Di balik kedipan itulah, Maiza sedang berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa membuka obrolan kembali dengan Anne.

"Anne," dengan pelan Maiza memanggil.

Sebuah musik jazz mengalun indah dari hape Anne. Sebuah panggilan masuk. Anne bergegas dan mengangkatnya. "Vivian," ujar Anne untuk menyanggah panggilan dari Maiza.

Maiza pun menangkap pembicaraan singkat di antara mereka. Vivian sudah berangkat dari rumahnya. Sebentar lagi, ia akan sampai di rumah Anne. Maiza memang belum mengenal Vivian dengan dekat, tetapi Maiza mendapat sedikit cerita dari Anne sendiri. Cerita persahabatan antara Anne dan Vivian.

"Jika berkenan, temanilah mama di rumah. Atau, kau boleh di kamarku saja, Maiza. Boleh menonton atau membaca  buku. Dan maaf, aku harus meninggalkanmu," tutur Anne berusaha tidak menyinggung perasaan Maiza.

'Anne," panggil Maiza agak sedikit gugup.

"Hari senin kita berjumpa lagi di sekolah."

Anne mengambil tas merah, lalu menyandangnya ke kedua bahu. Ia mematut diri sejenak di depan kaca, lalu tersenyum manis ke arah Maiza.

"Aku berangkat dulu, Maiza. Lain kali akan kuajak ke Seberang Palinggam."

"Anne, maafkan aku tidak bisa hadir kemarin. Sebentar saja, izinkan aku membahas tentang kepala sekolah," akhirnya Maiza mengutarakan niatnya.

"Tentang apa itu?" Anne pura-pura menanyakan balik, "Aku sudah lupa, seperti engkau yang melupakannya kemarin. Kita berjanji pukul empat, Maiza. Aku pun sudah menunggumu sampai maghrib."

"Yah, aku cukup berbaik hati dengan berpikir positif bahwa engkau tengah mengerjakan sesuatu. Akan tetapi, aku tidak menemuimu. Sampai malam pun. Bagiku, obrolan kita sudah selesai," jawab Anne, "Hari senin kita akan bertemu lagi di sekolah."

"Anne, maafkan aku," balas Maiza.

"Setidaknya engkau bisa memberi kabar kalau tidak bisa datang. Satu jam sebelum pertemuan kita. SMS, aku pikir cukup. Atau, tag namaku di twittermu. Setidaknya aku bisa membaca alasan darimu. Dan, aku pun bisa mengerjakan hal lain, bukan?'

"Anne."

"Kau sudah tahu jawabannya. Aku pamit." 

Anne membiarkan dirinya berlalu dari kamar dan membiarkan Maiza termenung. Ia mendengar sebuah suara bercakap-cakap dengan mama di lantai bawah. Vivian sudah datang. Anne pun segera mengambil sebuah kotak kemasan di dapur dan membawanya ke hadapan Vivian.

"Panekek isi keju, coklat, dan jagung. Lalu, surabi pandan kuah untuk nenekmu dan Pak Azwar."

Vivian tersenyum menyaksikan tingkah sahabatnya.

"Kita berangkat sekarang?" Anne memastikan Vivian untuk segera berangkat.

"Oke," jawabnya singkat.

Sebuah kecupan di pipi Mama.

"Mama tidak usah menunggu Anne pulang, ya! Kunci sudah Anne kantongi. Mungkin pukul sembilan malam Anne baru pulang. Boleh ya Ma, kali ini saja. Kalau mama sudah lelah, langsung istirahat! Tapi kalau mama membutuhkan sesuatu, telpon saja Anne," pamitnya. 

Mama mengangguk dan tersenyum kecil membiarkan anak perempuannya pergi.

Anne meninggalkan rumah. Vivian menyertai di belakang, dan menghidupkan motor kesayangannya. Mereka berangkat ke Desa Palinggam. Anne sudah mulai tak sabar untuk menikmati sore dan malam ini. 

Tanpa disadari Anne, Maiza menatap dengan air mata di balik gorden kamar tidurnya. Ia memang salah, tetapi tidak pertemuan seperti ini yang diharapkannya.
***

Kamis, 29 November 2012

Vivian


Aroma tubuhnya juga yang memenuhi kamar tidur yang diselimuti warna coklat ini. Aroma ini pun berdampingan dengan sebuah parfum pengharum ruangan yang setiap lima menit berbunyi seperti orang bersin. Bersin pengharum ruangan ini pun turut berebutan dengan aroma dengan tubuh Anne.

Anne tetap menikmati keduanya dengan bahagia.

Dengan tubuh yang masih dibalut handuk, Anne menggeraikan rambutnya yang masih basah. Tangannya tak berhenti pula mengibas rambut agar air-air yang masih singgah di rambutnya segera turun. Rambut kering, itulah yang segera diharapkannya agar ia bisa menyiapkan diri untuk berdandan. Pukul 14.00 Wib nanti, Anne akan berjumpa dengan Viana, sahabatnya. Mereka sudah membuat janji untuk bermain ke Seberang Palinggam. Sebuah desa di Padang Selatan yang menyajikan pemandangan yang memikat.

Seberang Palinggam selama ini lebih banyak dikenal oleh orang-orang melalui lagu-lagu minang. 

Dayuang dayuang
Dayuang sampan didayuang
Didayuang anak Palinggam, Palinggam, anak Palinggam
Didayuang anak Palinggam, Palinggam, anak Palinggam

Elok-elok manyubarang
Jan sampai titian patah
Elok-elok di rantau urang
Jan sampai babuek salah

Lagu itu sudah sejak berada di bangku SD dihafalnya. Namun, hingga usia 20 tahun ini, dia belum juga pernah berkunjung ke Palinggam. Tapi, meski abai dan terpaksa melupakannya, Anne cukup bahagia ketika suatu malam Vivian mengajaknya mengunjungi seorang nenek di Seberang Palinggam. Nenek yang disayangi Vivian karena selama kecilnya, Vivian ikut dibesarkan olehnya. Dengan cubitan, nyinyiran, dan belaian yang masih membuatnya jatuh hati pada si nenek hingga usianya dewasa.

Pertemuan mereka itu pula yang membuat Anne Fleur memaksa Vivian untuk bertemu siang ini. Mengajaknya untuk bermain ke Seberang Palinggam. Menikmati Seberang Palinggam seperti lagu yang didengarnya. Dayuang  Palinggam. Apalagi, Anne jadi terpikat dengan cerita Vivian pada masa kecilnya.

Vivian yang cantik itu cukup bandel pula ketika masih mengenakan rok merah. Sepulang sekolah, ia belajar mendayung sampan dari satu pinggiran ke seberang pinggiran lain. Dengan kebisaan itu, dia pun membujuk seorang bapak pemilik perahu untuk bersedia meminjamkannya sebuah sampan. Bukan untuk bermain lagi, tetapi untuk mendapatkan seratus rupiah. Uang dari keringat sendiri.

Di bangku kelas lima SD tepatnya. Sepulang sekolah, Vivian segera berlarian menuju tepian Seberang Palinggam. Pasalnya, Vivian sedang senang-senangnya bersampan. Akan tetapi, ia hanya dibolehkan bersampan ketika tepian sepi. Ketika tidak ada lagi orang-orang menyeberang dan sampan kosong. Kala itulah ia bisa bermain.

Menjelang saat-saat itu, Vivian akan menunggu si bapak menyelesaikan tugasnya. Sebab, dari tugas itulah si bapak mendapatkan uang untuk membeli makanan untuk ia, istri, dan anak-anaknya. Tapi, di perjalanan pulang, ia justru membayangkan bagaimana jika sore ini, ia menggantikan tugas si bapak. Agak sebentar, sampai ia merasa puas dengan mendayung sampan.

"Izinkan Vivi, Pak. Sebentar saja, biarkan Vivi yang membawa orang-orang ini ke seberang."

Bapak Azwar namanya, hanya diam memandang tubuh kecil Vivian. Tentu tak mungkin ia membiarkan gadis ini bersampan ke seberang. Meski sudah hampir sebulan ini ia melihat Vivian dengan gigih mendayung sampan. Tetap saja, Vivian adalah seorang gadis kecil. Jika abai saja sedikit waktu, Vivian bisa jatuh ke dalam sungai.

'Bapak tidak perlu khawatir. Vivi hanya akan menyeberangkan teman-teman seusia Vivi. Juga tidak banyak. Hanya dua sampai tiga orang di sampan. Vivi akan berhati-hati, Pak," bujuknya.

Pak Azwar terlalu sayang pada Vivian. Jadilah, mereka bersepakat bahwa hanya untuk dua kali penyeberangan. Sekali mengantar dua orang ke seberang, dan sekali lagi ketika Vivi harus balik ke pinggiran. Kembali ke tempat Pak Azwar.

Lonjakan senang keluar dari mulut Vivian. Si bapak hanya tersenyum dan ia membiarkan Vivi membujuk dua orang temannya untuk segera ke perahu.

"Ayo, bersampan dengan Vivi," teriaknya.

Anak-anak seusianya itu pun girang tiada terkira. Mereka berbahagia ketika di atas sampan tersebut hanya mereka bertigalah duduk dengan tenang. Vivian mendayung sampan, dan keduanya menikmati menyeberang dengan pendayung cantik serupa Vivian.

Lalu, mereka pun bernyanyi dayung palinggam. Cekikikan pun berkumandang hingga keduanya telah diantarakan Vivian sampai ke seberang.

Sepulangnya, Vivian pun mendapatkan dua orang penumpang yang hendak menyeberang. Senanglah hati Vivian karena pulang dan pergi, ia berhasil mendapatkan penumpang. Sudah terbayang pula, uang sebanyak Rp200,00 digunakannya untuk membeli kerupuk kuah sore ini. 

Saat kembali ke arah Pak Azwar, Vivian sengaja memperlambat laju sampannya. Ia sudah sepakat hanya dua kali menyeberangkan penumpang. Setelah itu, ia hanya  bisa melihat Pak Azwar menjalankan tugasnya. Laju sampan yang lambat, Vivian pun menyanyi kecil dan memandang sungai di bawahnya yang cukup bersih. Tidak ada sampah yang lalu lalang. Dan, Vivian pun puas menyaksikan wajah Pak Azwar yang sebenarnya harap-harap cemas menyaksikan Vivian membawa sampan. Tapi, si kecil Vivian justru memandang raut wajah Pak Azwar dengan senyum kemenangan. Berhasil kembali ke tepian dengan selamat.

"Kita sampai," teriak Vivian.

Kedua penumpangnya pun turun dan menyerahkan uang kepada Vivian. Dihitungnya, ada sekitar empat ratus rupiah dan Vivian membaginya rata dengan Pak Azwar.

"Dua ratus rupiah untuk sewa sampan, bapak. Terima kasih bapakku yang ganteng," rayu Vivian.
'Untukmu saja, Nak. Belanjakanlah," jawab Pak Azwar yang kemudian merapikan dayung yang diserahkan Vivian.
"Jangan, bapak sudah berkenan meminjamkan sampan, artinya Vivi harus berkenan membagi pendapatan.'

Jadilah, dua ratus rupiah diterima Pak Azwar dan dua ratus lagi dilihatnya di tangan Vivi dan dilambaikan kepada teman-temannya. "Hari ini aku bekerja," Vivian berlari-lari kecil dan kembali menyanyikan lagu dayuang palinggam.

Dan cerita itu pula yang memikat hati Anne. Seorang Vivian yang jelita di hadapannya kini, ternyata seorang anak perempuan yang ceria dan kreatif pada masa kecilnya. Jika tak bisa menikmati di kala kecil, saat inilah Anne ingin mencobanya.

"Sekarang sudah ada jembatan, Anne," kilah Vivian saat Anne menyatakan niatnya untuk bersampan dari satu pinggiran ke pinggiran yang lain.

"Sebuah sampan masih ada di sana, kan?" tanya Anne balik dan mendesak Vivian untuk menjawab 'iya'.

"Iya, " ujar Vivian pasrah. Ia masih melihat sampan milik Pak Azwar berada di tepian. Vivian tahu karena sudah ditanyakan kepada nenek bahwa sesekali Pak Azwar masih bersampan untuk menikmati sore di Seberang Palinggam.

"Yuk, mari kita bersampan di hari sabtu," paksa Anne. Vivian pun tidak bisa menolak. Mereka sepakat pada pekan ini dan Anne telah menyiapkan penganan sore, sebuah buku, dan baju ganti ketika nanti mereka basah-basahan sepulang bersampan.

Semenjak pagi, Anne menyiapkan hidangan sore ini. Memasak kue semacam dorayaki, panekuk yang diisi dengan coklat, jagung, dan keju di tengahnya. Lalu, surabi pandan yang berkuah yang akan diberikannya kepada Pak Azwar dan Nenek Vivian. Sebuah buku bacaan pun tak ketinggalan karena biasanya, pada sore hari, setengah sampai satu jam, Anne selalu menyempatkan diri membaca. Dan di pinggiran sungai nanti, Anne ingin menikmati satu jam sambil membaca sembari ditemani menghirup angin sungai.

Meski akan berkeringat nantinya, aroma tubuh tetap menjadi prioritas Anne. Ia harus tetap bersih dan wangi. Tak akan diizinkannya keringat singgah dan meninggalkan bau yang tidak sedap di tubuhnya. Puti Anne Fleur akan menikmati Sabtu sore dengan menyenangkan nanti bersama Vivian.


***




Rabu, 28 November 2012

Sebuah Kota, Padang


WANGI semerbak keluar dari tubuhnya. Wangi yang amat dekat. Apalagi, ketika ia menyentuhkan tangan untuk mencapai hidungnya, wangi itulah yang mampu membuatnya nyaman.

Meski pada awalnya ia tidak menyukai produk komersial ini, tapi akhirnya ia terlanjur jatuh hati. 
Wangi yang berasal dari merk sabun cair terkenal ini memang mampu memikat perempuan mana pun. Termasuk dirinya. Ia menyukai sabun ini bukan tanpa alasan. Bukan sekedar karena harumnya saja, tetapi karena sebuah alasan pragmatis. Sabun ini dipopulerkan oleh seorang gadis cantik yang patut dikagumi. Dian Sastrowardoyo. Artis ibukota yang jelita dan 'terjaga' dari gosip--pikirnya.

Dalam benaknya, pastilah perempuan itu amat bahagia. Disukai laki-laki dan dicemburui wanita. Cemburu untuk memikat. Memikat agar perempuan menciptakannya menjadi seorang perempuan. Perempuan, bukan wanita. Baginya, dua kata ini berbeda. Perempuan itu serupa seseorang yang selalu dirindui laki-laki ketika jarum jam menunjukkan petang. Ketika matahari sudah lelah dan ingin bercengkrama dengan senja. Ketika bunyi jangkrik mulai terdengar di belakang rumah. Saat malam. Saat itulah, perempuan akan dirindui oleh seorang laki-laki.

Dan bagaimana dengan wanita?

Wanita adalah perempuan modern yang sudah merencanakan waktu untuk dirinya sendiri. Akan menjadi apa ia pada lima tahun mendatang. Tapi, lebih 'simple'-nya, seseorang yang mengetahui persis apa yang akan dilakukannya lima menit ke depan. Berapa lama ia sibuk dengan pekerjaan tersebut. Dan, ia juga tahu persis kapan akan menyelesaikannya. Sebab, saat itulah ia sadar, pekerjaan lain juga tengah menunggunya.

Barangkali serupa itu. Dan, sabun inilah yang mampu memikat hati perempuan ini. Memikat hatinya agar bisa menjadi seorang perempuan. Sejenak menerima komersialisme, hanya untuk membuat dirinya berada dalam keadaan nyaman dan bahagia. Bahagia dengan wangi tubuh yang disukainya. Karena ia akan menggunakannya, selalu pada setiap kesempatan mandi.

Aroma itu yang disukai Anne. Gadis kota yang selalu memanggil dirinya dengan
gadis desa.  

Puti Anne Fleur. Gadis ini bukan siapa-siapa. Bukan artis. Juga bukan pelopor gerakan wanita untuk masyarakat mana pun. Akan tetapi, ia mempunyai catatan tersendiri untuk mempelopori dirinya agar menjadi seorang perempuan. Jikalau bisa, ia ingin menjadi perempuan yang dilabeli kata 'cerdas'. Sebab, cerdas akan menuntunnya pada sebuah sikap. Sikap bijaksana dalam mengambil keputusan--pikirnya.

Ah, perempuan ini suka berapologi, tapi seperti itulah ia menyukai dirinya sendiri.

Gadis ini berkulit kuning langsat. Tinggal di pusat kota yang amat dekat dengan pantai. Kota pun, bukanlah kota yang terkenal. Hanya sudut kota yang dijadikan persinggahan oleh orang-orang. Kota Padang. Kota mati yang pernah didengarnya. Diucapkan oleh orang-orang dari Jakarta. Sebab, tidak ada sesuatu yang istimewa di sini. Karena kota ini hanya sebuah persinggahan.

Di kota inilah, sebuah Bandara Internasional Minangkabau didirikan. Persiskah di Kota Padang? Tidak juga, malah lebih mendekati Kota Pariaman, kota kecil yang juga eksotik dengan pantai dan tradisinya. Berselebahan dengan Padang. Tapi, kedua kota ini harus berperang untuk memperebutkan dirinya demi sebuah bandara.

Namun, tetaplah Kota Padang menjadi juara. Ketika orang-orang luar bertanya, "Hendak ke mana kalian?", dan yang lainnya menjawab, "Akan ke Padang," dan saat itulah akan terbayang sebuah bandara yang akan menghubungkan diri mereka dengan orang-orang padang. Padahal, Kota Padang bukanlah tujuan mereka.

Mungkin, mereka justru bersitatap dengan Kota Bukittinggi, yang terkenal dengan Jam Gadang. Kota ini sendiri harus ditempuh dengan sebuah minibus dalam kecepatan mencapai 2,5 jam. Atau, mereka justru harus ke Kota Batusangkar. Sebuah kota yang menyajikan bangunan sejarah untuk mengenang Kerajaan Pagaruyung dengan rumah gadangnya nan elok. Atau, mereka harus ke Kota Pariaman, yang setiap tahun baru hijriyah meramaikan dirinya dengan pesta tabuik.

Tetapi, tetap saja orang-orang luar sana menyelipkan nama 'Kota Padang' sebagai tujuannya.

"Kami mau ke Padang.'

Persinggahan apa lagi yang bisa dikenang dari Kota Padang? 

Sebuah dermaga yang menghadap ke lautan lepas. Teluk Bayur. Di mana orang-orang Padang akan merapatkan cintanya di pelabuhan ini. Menunggu kekasihnya yang datang dari Tanjung Priok, Kepulauan Mentawai, dan dari berbagai tujuan lainnya. Di sini pula, orang-orang padang akan melepaskan air mata untuk kekasih, kerabat, sanak saudaranya yang hendak berlayar jauh. Juga berlayar lama. Akan tetapi, mereka tetap menikmati pertemuan dan perpisahan tersebut.

Juga terminal bayangan, yang sekarang justru menjamur di Kota Padang. Semenjak Terminal Bingkuang ditutup, semenjak itu pula angkutan darat rusuh. Tidak ada lagi sebuah tempat yang mempertemukan mereka. Serupa terminal Andalas yang dulu pernah berdiri di Jalan Pemuda. Sebuah terminal kebanggaan urang Minang, yang kini justru beralih fungsi menjadi sebuah plaza. Plaza Andalas. Lalu, setelahnya, plaza ini hanya menjadi persinggahan komersial. Orang-orang berbelanja dalam suasana modern. Ber-AC. Ber-eskalator. Ber-lift, dan setiap orang selalu datang dengan berdandan. Dandan yang cantik. Dandan yang gagah, melebihi ketika mereka akan pergi ke sebuah pesta pernikahan. Melebihi ketika mereka akan mengunjungi saudara yang baralek.

Apa yang istimewa dari Plaza Andalas? Tidak ada, selain hanya nama yang diambil dari pohon khas Sumatera Barat, Pohon Andalas, yang kini menjadi lambang sebuah perguruan tinggi ternama di Sumatera Barat--Universitas Andalas--tetapi tetap saja eksistensi plaza ini tidak akan pernah bisa menggantikan pasar tradisional yang tetap dicintai orang-orang padang. 

Serupa apa pula pasar tradisional itu? 
Nantilah, nanti kita akan menceritakannya, Anne.

Tapi baiklah, sekilas saja, pasar ini hanya sebuah pasar yang meniru konsep pasar modern dari barat. Mall. Plaza. Mengerucut pada swalayan, mini market, dan toserba. Plagiat. Meniru agar tampak cantik dengan lampu-lampu di dalamnya dan siapa pun yang berjalan di bawahnya seperti disirami kilauan cahaya.

***

Dan, di sanalah Puti Anne Fleur menetap. Sebuah kota yang menjadi persinggahan untuk siapa pun. Termasuk dirinya--sebenarnya. Sebab, Kota Padang ini bukanlah kota kelahirannya. Hanya sebuah kota persinggahan yang mampu membesarkan dirinya. Kota yang mampu membuatnya meninggalkan sebuah kota lain, nan jua tak kalah cantik. Kota  kelahiran yang menyuburkan cinta ayah dan ibunya. Sebuah kampung halaman--yang kini juga menamakan diri dengan kota--Kota Batusangkar.

Di sanalah ia berada saat ini. Hampir mencapai 20 tahun usianya, dan Kota Padang tetap menjadi cintanya.