WANGI semerbak keluar dari tubuhnya. Wangi yang amat dekat. Apalagi, ketika ia menyentuhkan tangan untuk mencapai hidungnya, wangi itulah yang mampu membuatnya nyaman.
Meski pada awalnya ia tidak menyukai produk komersial ini, tapi akhirnya ia terlanjur jatuh hati. Wangi yang berasal dari merk sabun cair terkenal ini memang mampu memikat perempuan mana pun. Termasuk dirinya. Ia menyukai sabun ini bukan tanpa alasan. Bukan sekedar karena harumnya saja, tetapi karena sebuah alasan pragmatis. Sabun ini dipopulerkan oleh seorang gadis cantik yang patut dikagumi. Dian Sastrowardoyo. Artis ibukota yang jelita dan 'terjaga' dari gosip--pikirnya.
Dalam benaknya, pastilah perempuan itu amat bahagia. Disukai laki-laki dan dicemburui wanita. Cemburu untuk memikat. Memikat agar perempuan menciptakannya menjadi seorang perempuan. Perempuan, bukan wanita. Baginya, dua kata ini berbeda. Perempuan itu serupa seseorang yang selalu dirindui laki-laki ketika jarum jam menunjukkan petang. Ketika matahari sudah lelah dan ingin bercengkrama dengan senja. Ketika bunyi jangkrik mulai terdengar di belakang rumah. Saat malam. Saat itulah, perempuan akan dirindui oleh seorang laki-laki.
Dan bagaimana dengan wanita?
Wanita adalah perempuan modern yang sudah merencanakan waktu untuk dirinya sendiri. Akan menjadi apa ia pada lima tahun mendatang. Tapi, lebih 'simple'-nya, seseorang yang mengetahui persis apa yang akan dilakukannya lima menit ke depan. Berapa lama ia sibuk dengan pekerjaan tersebut. Dan, ia juga tahu persis kapan akan menyelesaikannya. Sebab, saat itulah ia sadar, pekerjaan lain juga tengah menunggunya.
Barangkali serupa itu. Dan, sabun inilah yang mampu memikat hati perempuan ini. Memikat hatinya agar bisa menjadi seorang perempuan. Sejenak menerima komersialisme, hanya untuk membuat dirinya berada dalam keadaan nyaman dan bahagia. Bahagia dengan wangi tubuh yang disukainya. Karena ia akan menggunakannya, selalu pada setiap kesempatan mandi.
Aroma itu yang disukai Anne. Gadis kota yang selalu memanggil dirinya dengan gadis desa.
Puti Anne Fleur. Gadis ini bukan siapa-siapa. Bukan artis. Juga bukan pelopor gerakan wanita untuk masyarakat mana pun. Akan tetapi, ia mempunyai catatan tersendiri untuk mempelopori dirinya agar menjadi seorang perempuan. Jikalau bisa, ia ingin menjadi perempuan yang dilabeli kata 'cerdas'. Sebab, cerdas akan menuntunnya pada sebuah sikap. Sikap bijaksana dalam mengambil keputusan--pikirnya.
Ah, perempuan ini suka berapologi, tapi seperti itulah ia menyukai dirinya sendiri.
Gadis ini berkulit kuning langsat. Tinggal di pusat kota yang amat dekat dengan pantai. Kota pun, bukanlah kota yang terkenal. Hanya sudut kota yang dijadikan persinggahan oleh orang-orang. Kota Padang. Kota mati yang pernah didengarnya. Diucapkan oleh orang-orang dari Jakarta. Sebab, tidak ada sesuatu yang istimewa di sini. Karena kota ini hanya sebuah persinggahan.
Di kota inilah, sebuah Bandara Internasional Minangkabau didirikan. Persiskah di Kota Padang? Tidak juga, malah lebih mendekati Kota Pariaman, kota kecil yang juga eksotik dengan pantai dan tradisinya. Berselebahan dengan Padang. Tapi, kedua kota ini harus berperang untuk memperebutkan dirinya demi sebuah bandara.
Namun, tetaplah Kota Padang menjadi juara. Ketika orang-orang luar bertanya, "Hendak ke mana kalian?", dan yang lainnya menjawab, "Akan ke Padang," dan saat itulah akan terbayang sebuah bandara yang akan menghubungkan diri mereka dengan orang-orang padang. Padahal, Kota Padang bukanlah tujuan mereka.
Mungkin, mereka justru bersitatap dengan Kota Bukittinggi, yang terkenal dengan Jam Gadang. Kota ini sendiri harus ditempuh dengan sebuah minibus dalam kecepatan mencapai 2,5 jam. Atau, mereka justru harus ke Kota Batusangkar. Sebuah kota yang menyajikan bangunan sejarah untuk mengenang Kerajaan Pagaruyung dengan rumah gadangnya nan elok. Atau, mereka harus ke Kota Pariaman, yang setiap tahun baru hijriyah meramaikan dirinya dengan pesta tabuik.
Tetapi, tetap saja orang-orang luar sana menyelipkan nama 'Kota Padang' sebagai tujuannya.
"Kami mau ke Padang.'
Persinggahan apa lagi yang bisa dikenang dari Kota Padang?
Sebuah dermaga yang menghadap ke lautan lepas. Teluk Bayur. Di mana orang-orang Padang akan merapatkan cintanya di pelabuhan ini. Menunggu kekasihnya yang datang dari Tanjung Priok, Kepulauan Mentawai, dan dari berbagai tujuan lainnya. Di sini pula, orang-orang padang akan melepaskan air mata untuk kekasih, kerabat, sanak saudaranya yang hendak berlayar jauh. Juga berlayar lama. Akan tetapi, mereka tetap menikmati pertemuan dan perpisahan tersebut.
Juga terminal bayangan, yang sekarang justru menjamur di Kota Padang. Semenjak Terminal Bingkuang ditutup, semenjak itu pula angkutan darat rusuh. Tidak ada lagi sebuah tempat yang mempertemukan mereka. Serupa terminal Andalas yang dulu pernah berdiri di Jalan Pemuda. Sebuah terminal kebanggaan urang Minang, yang kini justru beralih fungsi menjadi sebuah plaza. Plaza Andalas. Lalu, setelahnya, plaza ini hanya menjadi persinggahan komersial. Orang-orang berbelanja dalam suasana modern. Ber-AC. Ber-eskalator. Ber-lift, dan setiap orang selalu datang dengan berdandan. Dandan yang cantik. Dandan yang gagah, melebihi ketika mereka akan pergi ke sebuah pesta pernikahan. Melebihi ketika mereka akan mengunjungi saudara yang baralek.
Apa yang istimewa dari Plaza Andalas? Tidak ada, selain hanya nama yang diambil dari pohon khas Sumatera Barat, Pohon Andalas, yang kini menjadi lambang sebuah perguruan tinggi ternama di Sumatera Barat--Universitas Andalas--tetapi tetap saja eksistensi plaza ini tidak akan pernah bisa menggantikan pasar tradisional yang tetap dicintai orang-orang padang.
Serupa apa pula pasar tradisional itu?
Nantilah, nanti kita akan menceritakannya, Anne.
Tapi baiklah, sekilas saja, pasar ini hanya sebuah pasar yang meniru konsep pasar modern dari barat. Mall. Plaza. Mengerucut pada swalayan, mini market, dan toserba. Plagiat. Meniru agar tampak cantik dengan lampu-lampu di dalamnya dan siapa pun yang berjalan di bawahnya seperti disirami kilauan cahaya.
***
Dan, di sanalah Puti Anne Fleur menetap. Sebuah kota yang menjadi persinggahan untuk siapa pun. Termasuk dirinya--sebenarnya. Sebab, Kota Padang ini bukanlah kota kelahirannya. Hanya sebuah kota persinggahan yang mampu membesarkan dirinya. Kota yang mampu membuatnya meninggalkan sebuah kota lain, nan jua tak kalah cantik. Kota kelahiran yang menyuburkan cinta ayah dan ibunya. Sebuah kampung halaman--yang kini juga menamakan diri dengan kota--Kota Batusangkar.
Di sanalah ia berada saat ini. Hampir mencapai 20 tahun usianya, dan Kota Padang tetap menjadi cintanya.