Sabtu, 01 Desember 2012

Untuk Sebuah Episode


Anne terkesiap. Sebuah melodi berbunyi dari hapenya. Melodi jazz. Penanda sebuah pesan masuk. Dari Rayan. Singkat. Amat singkat. Pada subuh ini, dia justru meluangkan waktu untuk sebuah pesan singkat.

Saya di bandara. Mau ke Singapura.

Entah berapa lama diamnya. Anne benar-benar terperangah dengan pesan singkat ini. Dia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam. Ia menerima telpon ketika sedang menonton sebuah film. Ditanyakan oleh Rayan bagaimana kabar Anne saat itu. Lalu, mereka bercengkrama dengan canda. Sebuah romantisme. Anne yang sedang jatuh cinta.

Lalu, malam merayap dan telpon tersebut dimatikan. Dengan kata-kata sayang. Juga sebuah kecupan telepon. Sampai-sampai Anne mematikan tablet dan merapikan diri untuk memejamkan mata. Pukul dua belas malam. Dan akhirnya ia memilih istirahat karena sudah mendengar kabar dari Rayan.

Dan entah apa yang ada di pikiran Rayan malam itu. Ia justru tidak mengabarkan keberangkatan pagi ini. Hanya sebuah pesan. Amat singkat dan tak menanyakan kabar Anne di pagi itu.

Anne Fleur terdiam sangat lama. Bahkan, ia tak bisa mengetikkan suatu pesan untuk segera me-reply pesan singkat tersebut. Hingga ia sadar. Ia harus membalas. Sekedar mengucapkan selamat menikmati perjalanan atau berhati-hatilah di jalan.

"Kenapa tak memberi kabar tadi malam? Aku benar-benar terkejut. Tapi, hati-hati di jalan ya!"

Selesai mengetik, Anne justru tidak segera mengirim sms tersebut. Dibacanya lagi berulang-ulang kalimat tersebut. Ah, lalu Anne menghapusnya. Bagaimana pula seseorang yang akan menaiki pesawat. Hanya menjadi penumpang, justru diberi pesan berhati-hati di jalan.

"Kan bukan dia yang mengendarai pesawat," kilah Anne sedikit tertawa. 

Dihapusnya dan segera digantinya pesan itu. Sebab, Anne masih ingat suatu hari obrolannya dengan Rayan. Di suatu hari ketika Rayan juga harus keluar kota. Untuk menghabiskan waktu cutinya. Anne justru yang menemani perjalanannya. Itu pun tidak dengan berada di samping Rayan. Justru dengan sebuah sms. Deringan telepon-sesekali.

"Hati-hati di jalan, ya!" kalimat itulah yang diucapkan Anne ketika akan menutup telepon. Rayan kala itu baru menempuh setengah perjalanan antara Padang dan Lampung. 

Rayan justru tertawa. "Kenapa harus berhati-hati, kan bukan saya yang mengendarai mobil," jawabnya. Dan muka Anne pun memerah tanpa sepengetahuan Rayan. 

"Ah, iya," kilah Anne dalam hati, lalu ia mencoba untuk mencairkan kaku. "Juga tetap harus hati-hati. Naik mobil jangan bermenung, bisa-bisa kepala dicium oleh atap mobil. Alias terbentur, alias malu dilihat orang-orang," kilahnya.

Anne cukup malu saat itu. Untunglah Rayan amat pandai menyelematkan hati Anne. "Iya, tetap harus hati-hati." Dan pembicaraan mereka pun usai kala itu.

Itulah yang membekas di pikiran Anne. Hingga dihapusnya pesan tersebut dan tak ingin diulangnya kembali menulis pesan yang sama.

"Selamat menikmati perjalanan, sayang."

Ditabahkannya hatinya. Tidak ditunjukkannya keraguan. Disimpannya seribu tanya. Anne membiarkan keterkejutannya melepas ke udara seperti embun pagi yang mulai hilang disinari matahari. Anne tidak ingin tahu banyak. Sebab, dia hanya akan menunggu Rayan bercerita.

Meskipun tidak seluruh hatinya tenang, Anne mencoba terus menenangkan diri. Ia membuka komputer dan mencoba masuk ke twiter. Status apa yang sedang ditulis Rayan tentang keberangkatan ini.

Nihil. Tidak ada sama sekali. Teka-teki pun masuk dengan antre ke benak Anne. Hendak ke mana kekasihnya ini. Apa yang akan dikerjakannya? Dan, ingatlah ia pada sebuah percakapan sebulan yang lalu. Bahwa pada 1 Desember 2012 ini, akan ada sejumlah wartawan diberangkatkan ke Singapura. Untuk menjadi penumpang pertama. Pesawat mandala yang menjalani rute perdana.

"Engkaukah yang turut serta, Rayan?"

Tapi, mengapa tidak ada berita. Sejak semalam pun, padahal kita masih saling bertukar cerita.

Senyum heran masih terkembang dengan manis di bibir Anne. Ia kembali teringat sebuah pertemuan di tahun lalu. Kapankah itu? Anne mencoba mengingat-ingat kembali persisnya. November. Ah iya, November. Persis setahun lalu, di bulan November yang selalu disinggahi hujan ini, ia justru menemukan suatu hari yang terik.

Anne pun sebenarnya tidak bersungguh-sungguh menemukan seseorang ini. Dalam pertemuan tersebut. Sebuah ingatan melayang olehnya pada suatu sore. Di sebuah seminar. Laki-laki itu duduk di sebelahnya. Anne tersenyum kepadanya, namun ia tetap serius mendengarkan seseorang duduk menjadi pembicara di depan sana. Tapi, entah bisikan apa yang membuatnya kembali memalingkan wajah ke arah laki-laki itu, dan ia membuat sebuah senyuman lagi. 

Laki-laki itu pun tersenyum.

Ia kembali membalas senyuman itu. Konsentrasi pecah antara ada dan tiada. Akhirnya, dipilihnya untuk membiarkan ingatan melayang-layang antara serius mendengar seminar dan serius mendengar bisikan laki-laki di sebelahnya. Justru, telinganya malah condong ke sebelah kanan. Ke arah suara laki-laki tersebut.

Ialah Rayan. Rayan kala itu memberikan sedikit komentar tentang apa yang dipikirkannya. Anne pun hanya mendengar dan sesekali mengangguk. Hanya saja, sebuah kalimat Rayan terngiang-ngiang di telingan Anne. Sepanjang seminar. Hingga mereka bertukar kontak bebe dan Anne pun pulang. Selebihnya, Anne tidak menjaga ingatan untuk kalimat yang disampaikan Rayan. Anne tidak memelihara kalimat tersebut. Ia biarkan berkelana, seperti dirinya yang memilih pulang ketika selesai menyelesaikan seminar.

Begitulah, hingga suatu hari di bulan Mei, Anne mengisi status di bebe.

"Merindukan sekolah ketika aku berseragam abu-abu ini. Masih ingat koridor panjang yang membentang. Ada sebuah lukisan senja di sana. Lukisanku."

Status tersebut disengajakan Anne bertahan agak satu jam. Lalu, pada jam kedua, digantinya status tersebut dengan status yang baru.

"Kisah-kisah melompat dalam benakku tentang sekolah di Jalan Sudirman ini. Bersama teman-teman, bersama sahabat, dan bersama guru. Ah, banyak kenangan yang mesti dikenang."

Dan seseorang merespon status Anne. Rayan. Seseorang yang ditemuinya pada November lalu. Respon yang biasa--sebenarnya. Hanya respon seorang kawan. Antara menyetujui dan tidak tentang sebuah status yang ditulis Anne tersebut.

"Kamu menjalani masa selama tiga tahun di sana. Tentu, kenangan tersebut akan membekas."

Dan sebuah perasaan dalam diri Anne tumbuh untuk membalas pesan bebe tersebut. Anne melakukan apologi. Ia membela diri bahwa kenangan tersebut membekas bukan karena jumlah tahunnya. Akan tetapi, tentang cerita-cerita kecil yang menghiasi hari-harinya di sekolah. Tentang orang-orang yang ditemuinya di masa lalu. Hingga, tak disadarinya, Anne dan Rayan bertukar cerita.

Pertukaran cerita tersebut seperti menjadi sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang disetujui Tuhan. Tuhan menakdirkan bahwa antara keduanya untuk saling berbagi cerita. Hanya berbagi cerita karena hingga bulan Desember di tahun 2012 ini, Anne juga tidak kunjung mendengar cerita Rayan.

"Biarkan suatu masa aku akan membagikan cerita ini dengan lengkap kepadamu. Suatu masa ketika itu tidak akan ada rahasia antara kita. Dan aku bisa membaginya dengan caraku. Kepadamu. Hanya berdua."

Anne pun memilih tidak menanyakan tentang itu. Jadilah, selama berbulan-bulan mereka membuat cerita baru untuk menghidupkan kedua hati yang diberi kesempatan dikunjungi rindu. Rindu yang selalu datang ketika Anne membuka mata. Rindu yang juga tumbuh seiring tanaman di depan rumahnya. Rindu yang selalu dikejutkan oleh makan siang, hingga mereka saling bertukar sapa.

"Menu apa yang disantap siang ini?"

Juga rindu yang menjadi kuat ketika senja menjadi jingga di Pantai Padang. Deburan ombak ikut mengalir dalam tubuh keduanya bahwa mereka merasakan satu perasaan yang sama. Saling mencintai. Rindu itu pun yang menjadikan keduanya memiliki sebuah impian sebelum memejamkan mata. Berharap agar rindu ini tumbuh menjadi segumpal daging.

Anne menikmati hatinya jatuh pada seorang Rayan. Namun, cara mereka yang dikenangnya tidak biasa, hingga akhirnya pagi ini ia harus menerima sebuah pesan singkat dari Rayan, ia pun hanya bisa mengantar perjalanan Rayan dengan sebuah doa. 

Doa ini tak sekedar diucapnya. Hendak ditulisnya dalam sebuah tweets. Sebuah tweets untuk mendoakan kekasihnya ini. "Aku hanya ingin dan berharap satu: agar engkau selalu berkabar."

Sebuah tweet dirasanya cukup untuk mewakili kegundahannya pada kekasihnya saat ini. Ia pun melepaskan kekhawatiran pada sebuah nyanyian sheila on 7. Mengeraskan suaranya. Lalu, Anne beranjak ke kamar mandi. Satu lagi yang hendak dilakukannya adalah mandi. Dengan sabun kesayangannya. Agar tubuhnya nyaman dan ia bisa melepaskan rindunya dengan damai pada seorang Rayan.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar